Pernahkah Anda berjalan ke supermarket, berniat membeli bahan makanan tertentu, hanya untuk menemukan rak-rak kosong tanpa penjelasan? Di era media sosial, fenomena ini bukan lagi sekadar masalah rantai pasok. Ini adalah "ledakan permintaan instan" yang dipicu oleh satu video viral. Dari mentimun di Islandia hingga keju cottage di Australia dan skyr di Jerman, resep viral telah menjadi kekuatan disruptif yang nyata, mengubah cara kita berbelanja dan memaksa supermarket untuk berjibaku agar mampu mengikuti laju tren yang bergerak sangat cepat.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: seberapa besar pengaruh media sosial terhadap kelangkaan produk di supermarket, dan mengapa rantai pasok seringkali kewalahan menghadapinya? Artikel ini akan mengupas tuntas biaya tersembunyi di balik tren makanan viral dan dampaknya yang signifikan terhadap industri ritel.
Ledakan Permintaan Instan di Era Viral
Resep viral memiliki kekuatan untuk mengosongkan rak supermarket dalam hitungan hari. Salah satu contoh paling dramatis terjadi di Islandia pada Agustus 2024, ketika seorang kreator konten asal Kanada yang dijuluki "cucumber guy" memicu kelangkaan mentimun di seluruh negeri. Video resep salad mentimunnya yang simpel ditonton hingga 30 juta kali, menyebabkan permintaan melonjak drastis [10]. Petani lokal yang biasanya memproduksi 6 juta mentimun per tahun—cukup untuk populasi 400.000 penduduk—tiba-tiba kewalahan [11][1].
"Ini pertama kalinya kami mengalami hal seperti ini," ujar Kristín Linda Sveinsdóttir, direktur pemasaran dari Asosiasi Petani Islandia (SFG), kepada BBC [11]. Supermarket lokal bahkan harus mengimpor mentimun dari Belanda untuk memenuhi permintaan [13]. Fenomena serupa juga terjadi di Jerman, di mana tren resep skyr yang viral menyebabkan rantai supermarket besar seperti Edeka, Rewe, dan Aldi kehabisan stok produk olahan susu asal Islandia tersebut [6].
Mengapa Supermarket Kewalahan Menghadapi Tren Viral?
Ketidakmampuan supermarket untuk mengikuti tren viral bukanlah tanpa sebab. Ada beberapa faktor struktural yang membuat rantai pasok rentan terhadap lonjakan permintaan mendadak.
Sifat Musiman dan Kapasitas Produksi
Seperti yang terjadi di Islandia, kelangkaan mentimun diperparah oleh faktor musiman. Tren viral datang di akhir musim tanam, saat petani mulai mengganti tanaman mentimun mereka. "Semuanya terjadi bersamaan," tambah Sveinsdóttir, "faktor TikTok, anak-anak kembali ke sekolah, dan pergantian tanaman." [11] Produsen tidak bisa begitu saja meningkatkan produksi dalam semalam, terutama untuk produk pertanian atau produk olahan susu yang membutuhkan waktu dan proses produksi yang panjang [7].
Efek FOMO (Fear of Missing Out) dan Psikologi Konsumen
Psikolog konsumen, Profesor Nitika Garg dari UNSW Sydney, menjelaskan bahwa kekuatan di balik tren ini adalah FOMO dan sifatnya yang viral. "Media sosial mengambil pemasaran testimonial ke tingkat yang baru," katanya. Influencer dipandang sebagai "orang biasa" yang aspiratif, sehingga konsumen merasa bahwa resep tersebut mudah dan terjangkau untuk ditiru [3][8]. Kombinasi antara aspirasi, rasa ingin tahu, dan takut ketinggalan tren menciptakan badai sempurna yang mendorong perilaku belanja impulsif [3].
Rantai Pasok yang Kaku dan Kurangnya Slack
Rantai pasok makanan modern dirancang untuk efisiensi, bukan untuk merespons lonjakan permintaan yang sangat cepat. Pabrik, peralatan, dan jadwal produksi direncanakan berbulan-bulan sebelumnya. Ketika permintaan tiba-tiba melonjak, misalnya pada keju cottage yang mengalami peningkatan penjualan hingga 68 persen [4], produsen tidak dapat mengalihkan kapasitas produksi mereka tanpa mengorbankan produk lain [7]. Bulla Dairy Foods, salah satu produsen cottage cheese terbesar di Australia, bahkan harus menambah shift produksi dan mempekerjakan lebih banyak pembuat keju untuk mengatasinya [12].
Keju cottage adalah contoh sempurna. Permintaannya sudah meningkat karena tren diet tinggi protein (protein-maxxing), tetapi ketika resep "cheesecake Jepang" dan "tiramisu yogurt" menjadi viral, permintaan melonjak ke tingkat yang tidak terduga [7][8]. Coles, salah satu rantai supermarket terbesar di Australia, mengakui bahwa ini adalah "pertaruhan konstan" untuk bisa mengikuti tren [4].
Dampak Lebih Luas: Dari Keju hingga Sarden
Fenomena ini tidak terbatas pada satu produk. Berikut adalah beberapa contoh kelangkaan yang dipicu oleh tren viral dalam beberapa tahun terakhir:
| Produk | Pemicu Tren | Dampak | Wilayah |
|---|---|---|---|
| Mentimun [1][10] | Resep salad "Cucumber Guy" | Kelangkaan nasional, impor darurat | Islandia |
| Skyr [6] | Resep cheesecake dan minuman energi protein | Stok habis di seluruh jaringan supermarket besar | Jerman |
| Keju Cottage [12][7] | Tren diet tinggi protein & resep tiramisu 5 menit | Peningkatan penjualan 68%, produksi dipercepat | Australia, Amerika Serikat |
| Yoghurt Yunani [8][3] | Resep "Japanese Cheesecake" | Rak supermarket kosong di Woolworths, Coles, Aldi | Australia |
| Sarden [9] | Tren "sardinemaxxing" | Peningkatan penjualan 25%, stok habis di banyak toko | Australia (Victoria) |
| Biskuit Kingston [2] | Resep puding persik dan biskuit | Peningkatan penjualan 250%, stok di pusat distribusi habis | Selandia Baru |
Dampak Positif dan Negatif
Meskipun merepotkan bagi konsumen dan supermarket, tidak semua dampak dari tren ini negatif. Ahli gizi seperti Anna Debenham melihat sisi positif dari tren keju cottage. "Sebagai ahli gizi, saya selalu menjadi penggemar berat keju cottage," katanya kepada The Guardian. Menurutnya, tren ini memanfaatkan bahan makanan yang sehat dengan cara yang kreatif [12]. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran tentang tren yang lebih ekstrem, seperti diet puasa hanya makan sarden selama beberapa hari, yang dikritik oleh para ahli kesehatan karena dapat menyebabkan gangguan pola makan [9].
Kesimpulan: "Biaya Nyata" dari Resep Viral
Fenomena resep viral yang mengosongkan rak supermarket adalah cerminan dari dunia yang semakin terhubung dan serba cepat. Biaya nyata dari tren ini bukan hanya berupa rak-rak kosong dan kekecewaan konsumen, tetapi juga tekanan besar pada produsen, inefisiensi rantai pasok, dan potensi pemborosan makanan ketika tren bergeser [5]. Ini adalah tantangan baru bagi industri ritel yang harus belajar untuk lebih tangkas dan responsif terhadap kekuatan media sosial.
Bagi konsumen, ini adalah pengingat bahwa di balik kemudahan dan kesenangan mencoba resep baru, ada sistem kompleks yang bekerja. Sementara influencer membangun karier di atas kreativitas, supermarket dan petani berjuang di garis depan untuk memenuhi permintaan yang berubah-ubah. "Beberapa orang bisa memiliki pengaruh yang sangat besar," kata Haflidi Halldorsson dari perusahaan peternakan domba di Islandia, merangkum realitas baru di era viral ini [1].
Referensi
- Cucumber shortage sparked by viral TikTok recipes: ‘A few people can have a lot of influence’ - The produce industry is in quite the pickle: There’s a cucumber shortage
- What's behind social media food trends - and why are they so tempting?
- FOMO foods: What’s really causing grocery shortages
- The surprising reason supermarket shelves are being emptied across the country
- Too Good To Go’s Chelsea Kerr on structured surplus, viral recipes and reducing household food waste - Too Good To Go’s MD on structured surplus, viral recipes and reducing household food waste
- Viral skyr recipes causing shortages in German supermarkets | DPA - Viral skyr recipes causing shortages in German supermarkets
- 🔥 The TikTok Yogurt Tiramisu That Took 5 Minutes to Make Is Causing a Cottage Cheese Shortage Across America - NewsBreak - Food & Drink
- Viral Yogurt Craze Depletes Store Stock; Psychologist Cites 'Fear Of Missing Out'
- Sardines are flying off Vic supermarket shelves. This TikTok trend is the reason why - Gen Z TikTok trend sparks major sardine demand in Victorian supermarkets
- TikTok craze leads to cucumber shortage in Iceland – DW – 08/30/2024 - Advertisement
- Cucumber TikTok trend blamed for hit to Iceland's supply - TikTok blamed for hit to Iceland cucumber supply
- Curd surge: TikTok recipes drive a national cottage cheese shortage - Curd surge: TikTok recipes drive a national cottage cheese shortage
- Iceland in a pickle as social media salad craze empties cucumber shelves - KUALA LUMPUR, Aug 23 — Iceland is facing a shortage of cucumbers, and social media influencers may be to blame